Didin Pecinta Telolet
Pada suatu hari, di kawasan Wates, Magelang
tinggalah sebuah keluarga yang memiliki 2 anak, mereka tinggal di sebuah rumah
kecil di sebuah desa yang berada di tengah-tengah kota Magelang, ibunya bernama
Janah, ayahnya bernama Joko, dan kedua anaknya bernama Didin dan Sri. Didin
adalah anak yang suka bermain kelereng di sekitar lapangan desa di dekat
rumahnya, Ia selalu berangkat terlalu pagi dan sampai sampai sering di marahi ibunya
karena sering terlalu lupa waktu, dan Sri adiknya Didin hanya senang bermain di
dalam rumah atau bersama tetangga seumurannya.
Seperti hari-hari biasanya, Didin selalu main lupa waktu,
kemudian ibunya seperti biasa menyusul anaknya yang biasanya bermain di
lapangan untuk segera mengajaknya mandi dan makan terlebih dahulu, namun
setelah sampai di lapangan, ibunya tidak menemukan Didin sedang bermain di
lapangan, begitu juga teman-temannya yang biasa bermain dengan Didin di
lapangan, di tempat itu tidak ada siapapun, tidak seperti biasanya. Kemudian
ibunya mencari kesana kemari, hingga menghubungi keluarga temannya, malah dikiranya
masih bermain di lapangan.
Ibunya sangat khawatir, Ia sudah berkeliling sekitar desa
namun tidak juga menemukan Didin, kemudian ia pulang dan memberi kabar ayahnya
karena Didin belum juga pulang, akhirnya mereka hamper pasrah dan muka mereka
terlihat sangat sedih dan hampir menelpon Polisi untuk mencarinya, tetapi
beberapa saat kemudian Sri datang dari kamar tidurnya.
“Loooh, ibu kenapa mau nangiis?” ucap
sri
“Sri, Didin tidak kelihatan dari tadi,
dilapangan juga tidak ada, padahal tadi pamitnya main kelereng” ucap Bu Janah
sambil bersedih
“Oalaah buuk, Sri tau” ucap sri
sambil tertawa
“Sri, Didin ke mana, sudah sejak pagi
tadi aku tidak melihat wajahnya? “ tanya Bu Janah.
“Mas Didin pergi bersama
teman-temannya ke pinggir jalan raya. Katanya sih mau Telolet, Bu, “ jawab Sri.
“O alah, Din, Telolet ki panganan
opo. Lha, mbok baca sholawat di rumah bisa untuk sangu akhirat”
“Hahaha, Telolet itu suara klakson
bus bu, mas Didin ikut ikutan temennya, kemarin dia juga cerita kalau mau nyari
bus di pinggir jalan”
“Looh? Mainnya dipinggir jalan to?
Wah kudu tak susul iki !” Ucap Bu Janah sambil khawatir
Kemudian Bu Janah segera bergegas
bersama suaminya untuk segera pergi ke pinggir jalan raya untuk menyusul Didin
untuk segera pulang.
Setelah
sampai di jalan raya, terlihat banyak orang dipinggir jalan membawa kertas
putih yang kebanyakan bertuliskan “Om Telolet Om” , Bu Janah sangat bingung
karena tidak hanya anak anak saja yang ada disana , tetapi banyak remaja dan
orang tua yang sedang berburu telolet. Kemudian mereka berhenti di dekat
kerumunan orang orang itu, dan mencari si Didin, dan sangat kebetulan,
terdengar suara didin sedang berteriak “Oooom telolet doong ooom!” dan ibunya
bergegas mendekati sumber suara karena sudah tahu kalau itu suara Didin.
Terlihat
didin dan teman-temannya sedang berada di pinggir jalan raya, kemudian Bu janah
dari belakang memegang pundak Didin, dan Didin masih saja belum sadar kalau
yang memegang pundaknya adalah Ibunya, kemudian temannya langsung terdiam, dan
Didin kebingungan kenapa teman-temannya tidak ikut teriak teriak lagi, kemudian
ia menengok kebelakang dan melihat ibunya.
“Eeeeh ibuuk, hehehe” kata Didin
sambil takut dan menelan ludah
“Didiiin!!, kamu tadi pamitnya mau
main kelereng, kok malah main dipinggir jalan gini!!?” ucap ibunya sambil marah
marah
“hehehe, tadi emang mau main kelereng
buk, tapi kata temenku lagi banyak telolet di jalan buk” ucap Didin sambil
ketakutan
“Ealaaaah!, pokokke sekarang pulang,
bahaya main dipinggir jalan, nek ora oleh telolet, tapi ketabrak bis kepriye??”
kata ibunya
“Iya iya buk, Didin pulaang” kata
didin sambil kecewa
Kemudian
mereka pulang kerumah, dengan muka kecewa, Didin langsung pergi ke kamarnya dan
tiduran sambil melamun, kemudian ibunya menyusulnya ke kamar dan memberi
nasehat kepada Didin.
“Diin, mbok ojo sedih too, ibu
ngomong ngene iki wedi nek Didin keno opo-opo” ucap ibunya
“Laah tapi kan buuk, aku seneng
krungu suara teloleet” bantah Didin
“Iyooo ibuk ngertii, daripada ning
pinggir dalan, mendingan nonton telolet ning YouTube wae” saran ibunya
“Yutub kui ning ndi buk?” ucap Didin
polos
“Iki lhoo, seko internet” ucap ibunya
sambil melihatkan video bus telolet kepada didin dari HPnya
“lhooo kok ternyata yo ono to buuk”
ucap Didin dengan kagumnya
“Iyoo diin, besok nek didin uwes
gedhe, oleh nonton telolet tenanan ning pinggir dalan, sementara nonton ning
kene disik yo naak” nasihat ibunya
“Okeee buuk” balas didin
Setelah
semua kejadian itu, Didin jadi ingat waktu saat bermain kelereng di luar
bersama teman-temannya, dan tidak perlu juga di susul untuk mengajaknya pulang,
karena ia sangat tertarik dengan telolet, sehingga ia sering menontonnya di HP
ibunya setelah pulang bermain kelereng bersama teman-temannya

